Saatnya Berbagi

berbagi ilmu menggapai ridho Illahi

Hadist ke-5 dari Imam Nawawi

Assalamualaikum Wr.Wb.

Awal bulan maret ini tiba giliran saya untuk memoderasi kolokium kita tentang hadist. Berikut saya nukilkan hadist ke-5 dari Imam Nawawi:

Dari Ummul Mu’minin; Ummu Abdillah; Aisyah radhiallahuanha dia berkata : Rasulullah bersabda: Siapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini yang bukan (berasal) darinya, maka dia tertolak. (Riwayat Bukhori dan Muslim), dalam riwayat Muslim disebutkan: Siapa yang melakukan suatu perbuatan (ibadah) yang bukan urusan (agama) kami, maka dia tertolak.

Yang dimaksud dengan “yang bukan (berasal) darinya” adalah perbuatan-perbuatan yang dinilai ibadah tetapi tidak bersumber dari ajaran Islam dan tidak memiliki landasan yang jelas, atau yang lebih dikenal dengan istilah bid’ah.

Pelajaran yang terdapat dalam hadits ini adalah:

1. Setiap perbuatan ibadah yang tidak bersandar pada dalil syar’i ditolak dari pelakunya.

2. Larangan dari perbuatan bid’ah yang buruk berdasarkan syari’at.

3. Islam adalah agama yang berdasarkan ittiba’ (mengikuti berdasarkan dalil) bukan ibtida’ (mengada-adakan sesuatu tanpa dalil) dan Rasulullah telah berusaha menjaganya dari sikap yang berlebih-lebihan dan mengada-ada.

4. Agama Islam adalah agama yang sempurna tidak ada kurangnya.

Islam sebagai agama yang sempurna telah dijelaskan dalam quran sebagai berikut

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi Kamu Agama Kamu” (Almaidah:3)

Sehingga tidak ada ibadah yang tidak berdasarkan dalil syar’i. Alquran juga menjelaskannya sebagai berikut:

“Kemudian Kami iringi di belakang mereka dengan rasul-rasul Kami dan Kami iringi (pula) dengan Isa putra Maryam; dan Kami berikan kepadanya Injil dan Kami jadikan dalam hati orang- orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang. Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah (1461) padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya. Maka Kami berikan kepada orang-orang yang beriman di antara mereka pahalanya dan banyak di antara mereka orang-orang fasik. [1461]. Yang dimaksud dengan Rahbaniyah ialah tidak beristeri atau tidak bersuami dan mengurung diri dalam biara” (Al-Hadid:27)

dan juga dalam surat Al-Israa:

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya” (Al-Israa:17)

Salam

=DDC=

March 1, 2007 - Posted by | e-kolokium, Hadist Arbain

9 Comments »

  1. Assalamu ‘alaikum wr.wb.

    Belakangan ini, pembahasan hadits kita sepertinya makin sepi🙂.

    Sekedar usul,
    untuk hadits ke 5 ini, saya usul agar pembahasannya diperluas sehingga
    bisa menjawab pertanyaan2 umum seperti: “Yang pantas disebut bid’ah
    itu yang bagaimana ?”, atau mungkin pertanyaan-pertanyaan lainnya juga.

    Sebab masalah bid’ah ini kadang kala bisa jadi sumber keributan juga
    … dan pada saat itu mungkin kita-lah yang harus bisa mengatasi
    masalah tersebut.

    wassalam

    Isa Ismet Khumaedi
    hitachinaka JP

    Comment by Ismet | March 6, 2007 | Reply

  2. W’alaikum salam wr. wb.

    Saya sependapat dengan usulan Pak Ismet tentang pengertian bid’ah yang akhirnya sering menjadi bahan perdebatan.

    Saya memahami bid’ah sesuai dengan hadist ke 5 dan hadist-hadist lain yang sejenis hanya dalam kerangka syariah. Dalam arti tentu saja amal-amal yang tidak berdasarkan dalil dari al qur’an dan sunnah yang shahih menjadi tertolak dan ini masuk dalam kategori ibadah mahdhah (dalam arti sempit). Dalam masalah shalat misalnya, tentu saja sudah ada panduan dari nabi kita bagaimana mendirikan shalat tersebut dari awal sampai akhir. Meski ada perbedaan juga dalam hal-hal kecil (furu’) yang masing-masing mempunyai dalil. Bagi kita yang tidak memiliki keahlian dalam memilih mana pendapat yang lebih kuat, ya saya berpendapat cukup merujuk ke ulama yang kita yakini.

    Persoalannya adalah status sebuah hadist. Bila semua ulama hadist sepakat bahwa suatu hadist adalah dhaif (lemah) tentu mudah bagi kita untuk mengamalkannya. Akan menjadi lebih sulit apabila suatu hadist menurut seorang ulama dikatakan dhaif tetapi ulama lain mengatakan hasan. Apakah boleh kita beramal dengan landasan hadist tersebut? Mungkin disini kita harus mencari pendapat ketiga tentang status hadist tersebut baru kemudian kita bisa menentukan sikap.

    Dengan demikian dalam pengertian ibadah muamalah tidak berlaku hukum bid’ah. Sebagai contoh masalah kendaraan, kan kita boleh-boleh saja naik kereta api atau pesawat udara tanpa dijuluki ahli bid’ah (mubtadi’).

    Tolong ingatkan saya kalau ada kesalahan di dalamnya.

    Wassalamu’alaikum wr. wb.
    Cahyo Purnomo

    Comment by Cahyo | March 6, 2007 | Reply

  3. Syukran Akh ismet atas tegurannya.
    Berikut bahasan ana tehadap postingan Akh Dodi.

    HADITS KE-5 ARBAI’N : MENGHINDARI BID’AH
    Dari Ummul Mu fminin; Ummu Abdillah; Aisyah radhiallahuanha dia berkata : Rasulullah bersabda: Siapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini yang bukan (berasal) darinya, maka dia tertolak. (Riwayat Bukhori dan Muslim), dalam riwayat Muslim disebutkan: Siapa yang melakukan suatu perbuatan (ibadah) yang bukan urusan (agama) kami, maka dia tertolak.

    Hadits ini adalah kaidah agama dan simpul umum risalah Nabi SAW tentang menghindari bid’ah. Bid’ah adalah mengada-adakan sesuatu di luar kaidah Islam. Disamping itu perlu juga menghindari kelompok yang suka mempraktekkan bid’ah. Tetapi perlu menggunakan cara-cara yang bijak didalam menghindari mereka dan mengajak mereka kembali ke jalan yang benar dengan mengadakan perubahan secara bertahap dan edukatif. Pemahaman yang mendalam akan membuahkan kesadaran yang kuat dan bertahan lama menuju perubahan yang lebih baik.

    Pengalaman ana ketika berbaur (tapi tidak melebur) dengan perwiridan Yasin di kampung adalah mentradisikan ceramah rutin ba’da wirid. Ketika giliran ana mengisi disitulah kita sadarkan bahwa beragama itu perlu pemahaman dan ilmu yang membuahkan imanul ‘amiq (keimanan yang mendalam) bukan hanya amaliyah. Kadang ana juga dikasih giliran untuk mengisi bagian baca Yasin dan do’a selamat, tapi ana coba baca perlahan (tartil) penuh makna baca Yasin sehingga mereduksi tradisi buru-buru dalam membacanya. Dan ketika giliran mimpin do’a ana skip bagian yang berbau khurafat dan bid’ah. Namun kalau bagian tahlil ana menolak halus karena susah menghilangkan dzikir keras yang ujungnya nggak jelas baca kalimatullah.

    Sama seperti komentar Akh Cahyo, ana juga prihatin terhadap sekelompok orang yang begitu gemar melempar cap bid’ah kepada kalangan di luar kelompoknya. Padahal belum tentu mereka juga lebih baik keislamannya dibanding yang difitnahnya. Kalau memang betul kelompok lain tsb berbuat bid’ah adalah sebaiknya dinasehati secara lisan bil hikmah secara personal tanpa harus diumumkan di depan forum. Salah seorang imam (ana lupa Imam Syafi’I atau Hanafi) pernah berkata,”Saya juga tidak akan terima apabila ada orang yang mengkritik saya di depan umum.”. Sebaiknya bil hikmah wal mau’izhatil hasanah.

    Penjelasan hadits ini :

    Sumber : Al Imam Yahya bin Syarafuddin An Nawawi, Syarah Hadits Arbain, Al Qowam Press, page 78-79.

    Seluruh ibadah seperti mandi, wudlu, puasa dan shalat apabila dilaksanakan berbeda dengan ketetapan syara’ maka ibadah itu akan dikembalikan kepada pelakunya dan bahwa sesuatu yang diperoleh lantaran akad yang tidak sah harus dikembalikan kepada pemiliknya semula, tidak menjadi hak milik. Suatu ketika seseorang dating kepada Nabi SAW (dan) bertanya : “Sesungguhnya anakku pernah bekerja pada orang ini, lantas menzinai istrinya. Saya diberitahu bahwa anakku harus dirajam, maka saya menebusnya dengan seratus ekor kambing dan seorang budak perempuan.”

    Beliau SAW bersabda : Kambing dan budak perempuan itu dikembalikan kepadamu.”

    Dalam hadits ini juga terkandung dalil bahwa barangsiapa membuat bid’ah di dalam agama yang tidak sesuai dengan syara’, maka dosanya ditanggung oleh pembuatnya itu, amalnya dikembalikan kepadanya, dan ia berhak menerima ancaman. Nabi bersabda : “Barangsiapa membuat bid’ah atau melindungi pembuat bid’ah, maka ia mendapat laknat Allah.”

    Berikutnya, maksud hadits ini adalah berisi dorongan untuk menaruh kepedulian terhadap (pendalaman dan pengamalan yang benar) agama dan bahwa agama ini sudah sempurna (dibanding isme-isme sejarah dan modern).

    Semoga bermanfaat.
    Wassalam
    ———————————-
    APPENDIX :
    Kita juga perlu meyakini periwayat hadits-hadits ini (e.g. Arbain, Riyadlus Shalihin) seperti ‘Aisyah, Ibnu Mas’ud atas penjelasan mereka karena mereka mengikuti sunah Nabi SAW dan langsung berinteraksi dengan beliau.

    Kalau kita misinterpretasi dengan tekstual suatu hadits sebaiknya kita evaluasi lagi sudah benarkah referensi yang kita ambil. Karena bisa jadi suatu penceramah, pengarang, penerjemah, atau penerbit memuat kekeliruan yang bisa disengaja atau tidak sehingga merubah sanad, matan, dan redaksi hadits. Semoga Allah senantiasa menunjuki kita di dalam jalan kebenaran.
    Allahumma arinal haqqo haqqo war zuqnat tiba’ah wa arinal haqqo haqqo warzuqnat tinabah.

    Comment by Sugeng | March 6, 2007 | Reply

    • pak Sugeng, d’a penutupnya saya luruskan sedikit….barang kali Anda salah ketik

      Allahumma arinal haqqo haqqo war zuqnat tiba’ah wa arinal bathila bathila warzuqnat tinabah.

      Wassalam,

      Comment by ahmad | June 19, 2010 | Reply

  4. Assalamualaikum wrh wbr.,

    Saya setuju dan memahami bahwa `mengada-adakan sesuatu`diluar yang Nabi
    perbuat disebut bid`ah, hanya kalau berkaitan dengan ibadah, dan bukan
    muamalah.

    Nah permasalahan yang kita hadapi adalah sulit untuk membedakan suatu
    aktifitas itu ibadah atau bukan. Bukankah segala sesuatunya bisa bernilai
    ibadah tergantung niat kita? (Mungkin Pak Cahyo bisa mendefinisikan lebih
    sempit lagi).

    Saya mengambil contoh wirid-an yang disebutkan Pak Sugeng. Kalau kita setuju
    itu tidak diajarkan Nabi, bagaimana kalau orang2 tersebut menganggapnya
    hanya sebagai bagian dari doa. Lalu kita mungkin berpendapat, doa pun harus
    sesuai yang Nabi ajarkan. Nah, bukankah kita `bebas` berdoa dengan cara
    kita?

    Saya bertanyakan hal ini karena matsurot yang kita baca setiap pagi dan
    petang (yang menurut saya sangat bagus sekali artinya), ada yang
    menganggapnya juga bidah, karena mengandung beberapa bagian yang tidak
    pernah diajarkan Nabi. Namun pikiran sederhana saya selalu mengatakan, kalau
    berdoa saja kita bebas menyebutkan apa yang kita mau, apa salahnya dengan
    bacaan2 matsurot tadi (dan juga wiridan lainnya)?

    Wallahualam

    Irwandi

    Comment by Irwandi | March 6, 2007 | Reply

  5. Kalau seluruh muatan wirid ma’tsurat namanya juga ma’tsur artinya masyhur terkenal adalah yang biasa dikerjakan nabi pagi dan petang. Seluruhnya shahih. Bisa dibaca dari keterangan lengkap ma’tsurat kubra. Adapun kalau do’a rabithah adalah hanya untaian do’a pilihan ulama shalih bukan dari nabi karena memang tidak ada riwayatnya. untuk hal ini berlaku apa yang dikatakan akh Ir tentang do’a kebaikan dengan bahasa dan keinginan kita. Tapi bukankah suatu kebaikan juga kita meneladani ulama-ulama pendahulu kita yang kita yakini keshalihan dan kadar takutnya kepada Allah ?
    Syukran atas atensi antum semua.
    —–
    Kalau ana mengatakan antum atau akhi/akh adalah suatu panggilan kehormatan sekaligus ukhuwah dalam pergaulan arab islami yang bermakna anda atau saudara yang kami hormati.

    Comment by Sugeng | March 6, 2007 | Reply

  6. Jazakallah Akh Ismet mengingatkan,
    Berikut saya tambahkan wawasan, smoga manfaat.

    Perbedaan Bid’ah dengan maksiyat:

    1. Setiap bid’ah sudah pasti maksiyat tetapi tidak sebaliknya.
    contoh: Zina atau minum khmar disebut maksiyat dan bukan bid’ah sedangkan shalat tahajud bersama yang di tentukan waktu dan tempatnya pada malam tahun baru atau lainnya adalah bid’ah dan termasuk dalam maksiyat pada Allah SWT.

    2. Pelaku bid’ah merusak dirinya, oranglain dan merusak agama. Pelaku maksiyat pada umumnya hanya merusak dirinya dan oranglain, tidak merusak agama.

    3. Pelaku bid’ah lebih dicintai Iblis daripada pelaku maksiyat. Sofyan At Tsauri berkata: “Perkara bid’ah lebih dicintai iblis daripada pelaku maksiyar karena pelaku maksiyat sewaktu-waktu akan bertobat pada Allah SWT sedang pelaku bid’ah susah untuk bertobat pada Allah karena menganggap yang dilakukan adalah suatu kebaikan. Tobat pelaku bid’ah tidak diterima sampai ia meninggalkan bid’ahnya.

    Selengkapnya bisa dilihat disini .

    Sdq

    Comment by dix | March 6, 2007 | Reply

  7. Alhamdulilah jadi rame (^_^)

    Tentang tulisan Pak Ir di atas, saya teringat pada penjelasan Ustadz
    Zaitun tentang masalah ini.
    Bagi yang belum kenal dengan beliau, Ustadz Zaitun adalah ustadz yang
    dikirim oleh kerajaan Saudi untuk mengajar bahasa arab di Hiroo Tokyo,
    dan sekaligus untuk berdakwah kepada masyarakat Indonesia di Jepang.
    Kebetulan, 4-5 tahun yang lalu, beliau pernah memberikan kajian yang
    lumayan detil tentang masalah bid’ah ini.

    Yang saya ingat dari penjelasan beliau, beliau menekankan, bahwa
    memang ada banyak perbuatan yang sering ‘dituduh’ sebagai bid’ah,
    padahal kalau kita mau mengacu pada aturan yang ada, ternyata tidak
    semua perbuatan itu termasuk bid’ah. Satu hal yang bisa
    ‘menyelamatkan’ satu perbuatan dari status bid’ah adalah: keberadaan
    dalil umum yang berkaitan dengan hal itu.

    Contohnya, ya berdoa itu. Berdoa adalah ibadah. Tapi isi dan
    pelaksanaannya tidak ditentukan. Artinya, kapan saja kita berdoa,
    dengan cara apa saja kita berdoa, mau pakai bahasa arab atau bahasa
    Indonesia, mau dibiasakan atau tidak dibiasakan, mau menggunakan
    ayat-ayat AlQur’an, hadits-hadits Nabi atau mau menggunakan
    kalimat-kalimat sendiri, maka itu semua acceptable. Alasannya, karena
    adanya keumuman dalil yang memang menyebutkan bahwa berdoa itu bebas
    caranya.

    Jadi, ustadz Zaitun membatasi bahwa yang namanya perbuatan ibadah yang
    bid’ah itu adalah perbuatan yang memang tidak ada dasarnya sama
    sekali, meskipun dasar yang berbentuk dalil umum sekalipun.

    Sampai di sini saya jadi berfikir, bagaimana dengan program wiridan di
    kampung-kampung ? dan bagaimana pula dengan tarian-tarian ibadah yang
    dikerjakan oleh sebagian kecil ummat Islam ? Kalau mau
    di-“cocok-cocok” -an, sepertinya akan selalu ada dalil yang bisa
    dipakai. Jadi mungkin, ini menurut saya pribadi, kadar “nyunnah”
    tidaknya suatu ibadah mungkin bisa dijadikan parameter untuk
    mengklasifikasikan apakah suatu perbuatan ibadah itu termasuk bid’ah
    atau bukan. Artinya, kalau prosentase atau nuansa sunnah-nya lebih
    terasa, maka bisa kita katakan itu bukan bid’ah. Tapi kalau prosentase
    sunnah-nya lebih sedikit (seperti wiridan di kampung yang isi doa-nya
    sudah mengarah pada khurafat dll) maka mungkin bisa kita
    klasifikasikan sebagai perbuatan bid’ah.

    Hanya masalahnya, siapa yang punya hak untuk menentukan apakah suatu
    perbuatan itu bisa diklasifikasikan sebagai bid’ah atau bukan ? Kalau
    semua merasa punya hak, maka akan muncul banyak keributan di
    mana-mana. Dan hal inilah yang mungkin ingin dicegah oleh Ustadz
    Zaitun, sehingga beliau memberikan penekanan pada “ada banyak
    perbuataan yang dituduh bid’ah tapi sebenarnya bukan bid’ah”.

    Mungkin kesimpulannya, “Berusaha untuk menghindarkan diri dari bid’ah
    itu tidak sama dengan harus aktif menuduh ini bid’ah dan itu bid’ah”.🙂

    Ini saja yang saya ingat.
    Mohon koreksinya kalau salah.

    wassalam

    Isa Ismet Khumaedi
    hitachinaka JP

    Comment by Ismet | March 7, 2007 | Reply

  8. Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabaarakaatuh

    Lain kali boleh ikutan diskusi ya….
    Mudah2an Allah selalu menerangi hati ini sehingga bisa membedakan antara kebenaran dan kebathilan.
    Ukuran kebenaran adalah apa yang datang dari Allah dan RosulNya.

    Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabaarakaatuh

    Comment by Ratna | April 28, 2007 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: